become a tourist in your own hometown.

when you’re in need of a vacation but your saving and leave balance won’t allow you to have one, what would you do?

salah satu alternatif yang saya temukan untuk menjawab pertanyaan di atas adalah: menjadi turis di kota sendiri.

saya sebenernya udah pernah denger soal jakarta walking tour beberapa tahun lalu. tapi karena keterbatasan informasi (dan niat), ujung-ujungnya pun cuma jadi wacana belaka, lol. sampai akhirnya bulan desember 2017 kemarin akhirnya kesampean juga ikutan walking tour yang di-organize oleh cafe semasa dan jakarta good guide.

jakarta good guide punya beberapa rute walking tour yang bisa dipilih. rute yang jadi objek event kolaborasi dengan cafe semasa waktu itu adalah rute kota tua. pas banget, saya emang lagi pengen banget menjelajah kota tua. langsung deh daftar (by whatsapp/email), bayar (IDR 125,000 per orang), dan tunggu hari H buat ikutan.

Continue reading become a tourist in your own hometown.

Advertisements

solo traveling: yay or nay?

I never traveled alone before. naik pesawat sendirian udah pernah, nonton di bioskop sendirian udah beberapa kali, makan sendirian di restoran udah sering, jalan-jalan di mall sendirian udah ga keitung berapa kali. tapi kalo traveling sendirian—bener-bener sendirian mulai dari berangkat, jalan-jalan, dan pulang—so far belom pernah.

selama ini saya selalu traveling bareng temen, seringnya sih berdua, paling banyak berempat, karena sejujurnya saya kurang suka traveling rame-rame. waktu jalan-jalan ke jepang bulan oktober lalu, saya sempet sih jalan sendirian setengah hari di tokyo. jadi paginya masih barengan hesti sampai makan siang, trus setelah itu kita misah jalan sendiri-sendiri sampai malem. it was pretty fun, I guess. saya keliling akihabara (plus mampir ke tokyo station sebentar) dan berhasil pulang ke hostel di ikebukuro tanpa masalah :)

the idea of solo traveling has been around since last year, I think, even way before the japan trip. tanpa bermaksud menyombong, I happen to be one of those people who is able to read map and navigate quite well—ya walaupun kadang suka korslet sendiri sih but I honestly don’t mind getting lost in new places anyway—jadi kaya’nya itu yang bikin saya mulai mikir “kaya’nya saya bisa survive deh kalo solo traveling.”

Continue reading solo traveling: yay or nay?

apply visa korea selatan: myths vs reality.

sebagai fans kpop garis keras, salah satu cita-cita saya dari jaman kuliah adalah berkunjung langsung ke korea selatan. niatnya sih udah ada dari tahun 2013 tapi selalu ke-pending karena satu dan lain hal (ehem kondisi keuangan ehem) hingga akhirnya pada awal tahun 2015 kmaren saya dan hesti officially booked 2 tiket pulang-pergi CGK-ICN untuk perjalanan 5 hari 4 malam di akhir april 2015. sedikit impulsif sih karena ngejar harga promo tapi emang biasanya rencana yang impulsif atau spontan itu justru lebih jalan ketimbang yang kebanyakan mikir.

tiket pesawat udah di tangan, saatnya menghadapi masalah yang lebih serius yaitu … apply visa. *berbisik dramatis*

waktu booking tiket pesawat saya belum terlalu mikir banget soal visa. setelah browsing sana-sini tentang persyaratan dan pengalaman orang-orang yang udah pernah apply visa korea selatan, baru deh saya mulai deg-degan setengah mati. misalnya (amit-amit jabang bayi) permohonan visa saya ditolak kan berarti semuanya hangus mulai dari tiket pesawat, asuransi perjalanan, biaya administrasi visa, etc. kalo ditotal nominalnya bisa ampe 6 jutaan tuh, sayang banget kan :( saya pun langsung browsing lebih giat untuk memperkecil kemungkinan ditolaknya permohonan visa saya.

Continue reading apply visa korea selatan: myths vs reality.