asisten rumah tangga.

whoa! it’s been a month since my last post. sebulan ini saya disibukkan dengan banyak hal mulai dari skripsi ampe hal-hal pribadi. ditambah lagi saya adalah orang yang sangat sangat moody dan selama sebulan terakhir bisa dibilang mood nulis sama sekali ga muncul. mood nulis skripsi aja munculnya susah banget, apalagi mood nulis blog? *malah curcol*

aanyway kali ini saya pengen menulis tentang asisten rumah tangga. yap, asisten rumah tangga atau mungkin lebih dikenal dengan sebutan pembantu rumah tangga, orang yang bekerja di rumah kita buat bantu-bantu bersihin rumah, nyuci baju, masak, dan sejenisnya.

saya sendiri lebih nyaman menyebutnya “asisten rumah tangga” atau “mbak” dalam pembicaraan sehari-hari ketimbang “pembantu” atau “pembokat.” kenapa? entahlah, mungkin ini cuma menurut anggapan saya aja, tapi menurut saya istilah “pembantu” agak sedikit terlalu kasar dan sejujurnya saya sangat menghormati profesi mereka. jadilah saya sejak kecil sebisa mungkin tidak menyebut mereka dengan sebutan “pembantu.”

ide untuk membahas tentang asisten rumah tangga ini muncul beberapa hari lalu, ketika teman saya ephay mendadak galau dan membahas soal mbak imas, asisten rumah tangganya, di twitter. dia bercerita klo mbak imas harus pulang kampung untuk ngebantuin keponakannya yang baru melahirkan, padahal mbak imas udah mengabdi di rumah ephay selama bertahun-tahun sejak ephay masih SMA.

baca ceritanya ephay itu, saya jadi inget diri saya sendiri dan asisten rumah tangga yang udah bekerja di rumah saya selama bertahun-tahun. saya sendiri udah hampir 5 tahun terakhir ini nggak tinggal di rumah karena harus kuliah di jogja, jadi udah nggak terlalu berinteraksi lagi ma orang-orang rumah, salah satunya ya asisten rumah tangga.

mungkin saya adalah satu dari sedikit anak yang bisa dibilang “dibesarkan” oleh asisten rumah tangga. istilah lain yang pernah dicetuskan oleh salah seorang teman saya adalah “anaknya pembantu.” since my mother is a working woman, I spent most of my childhood times with my housemaid. bukan berarti ibu saya nggak pernah ngurusin saya lantaran terlalu sibuk ma pekerjaannya. ibu saya wanita kantoran tapi teteup selalu berusaha meluangkan waktunya buat keluarga, dan saya bisa dibilang deket banget ma ibu. tapi bagaimana pun juga, sehari-hari tentu saya lebih sering bersama asisten rumah tangga.

asisten rumah tangga yang paling berkesan buat saya adalah mbak ‘ah.

mbak ‘ah udah bekerja di keluarga ayah saya sejak dia baru lulus SD. saya sendiri ga tau pasti mbak ‘ah lahir tahun berapa, jadi saya ga bisa mengira-ngira apakah mbak ‘ah seumuran ayah saya atau nggak. tapi yang jelas mbak ‘ah udah kenal baik ayah saya dan keluarganya jauh sebelum ayah dan ibu menikah, dan tentu saja jauh sebelum saya lahir.

singkat cerita, mbak ‘ah akhirnya ikut ayah dan ibu saya ke jakarta, saya lupa tepatnya sebelum atau setelah saya lahir. tapi yang saya ingat adalah mbak ‘ah adalah pengasuh saya sejak bayi. pekerjaannya juga oke banget. rumah rapi dan bersih, masakannya juga enak. she’s the best housemaid ever, well not in the whole world tapi at least dari semua asisten rumah tangga yang pernah kerja di rumah saya, dia yang kerjaannya paling oke.

mbak ‘ah akhirnya memutuskan untuk balik ke kampungnya for good ketika saya … kelas 6 SD? atau udah masuk SMP? entahlah, saya bahkan udah lupa tepatnya kapan. yang saya ingat, waktu mbak ‘ah pergi saya nangis. rasanya sediih banget. bayangin aja, orang yang udah ngurus kita dari bayi, yang masakin buat kita hampir tiap hari, yang dulu nyuapin kita makan, yang nyiapin segala keperluan kita, eeh tau-tau harus pergi. tapi ya namanya juga anak SMP, rasa sedih itu cuma bertahan selama beberapa hari. live goes on, walaupun sejujurnya setelah itu pun saya masih sering merasa kehilangan mbak ‘ah. tapi toh sampai sekarang saya masih sering ketemu mbak ‘ah, biasanya ketika lebaran and alhamdulillah she’s fine.

asisten rumah tangga kedua yang ga kalah berjasa besar buat keluarga saya adalah mbak yani.

wah klo sama mbak yani, sejak kecil saya jarang akur. orangnya keras dan agak judes. bukan cuma sama saya aja, tapi sering juga terjadi konflik antara mbak yani dengan ayah, ibu, dan mbak ‘ah atau asisten rumah tangga yang lain. pernah juga terjadi beberapa insiden yang kurang menyenangkan, tapi biar bagaimana pun juga, saya paling salut dengan peran mbak yani di keluarga saya.

di keluarga saya, saya adalah anak bungsu dari dua bersaudara. dengan kata lain saya cuma punya satu kakak cowo’ dan kakak saya mengidap down syndrome. dan mbak yani ini adalah pengasuh kakak saya sejak kakak saya kecil sampai sekarang. ya, sampai sekarang. saat ini cuma mbak yani aja asisten rumah tangga yang bekerja di rumah saya.

membantu mengasuh seorang anak yang mengidap down syndrome selama bertahun-tahun, kurang besar apa jasa mbak yani? saya sendiri yang adik kandungnya pun seringkali ga sabaran dan ga betah, tapi mbak yani udah ngasuh kakak saya mungkin sudah lebih dari 20 tahun. dan tanpa mbak yani, saya bener-bener ga tau deh gimana jadinya keluarga saya. dan sejujurnya saya blom bisa membayangkan apa jadinya nanti klo mbak yani memutuskan untuk pulang kampung dan berhenti bekerja di rumah saya lagi.

seperti yang tadi udah saya bilang di awal, ibu saya adalah wanita kantoran. jadi peran asisten rumah tangga bener-bener penting bagi keluarga saya. mungkin itu sebabnya sejak kecil saya sudah “terprogram” untuk lebih menghormati profesi mereka. mungkin tanpa kita sadari, mereka berjasa lebih besar dari sekedar bersihin rumah atau masak. secara tidak langsung, mereka udah jadi bagian dari keluarga kita, apalagi klo mereka udah mengabdi selama bertahun-tahun. jadi pesan saya cuma satu, hargailah asisten rumah tangga yang bekerja di rumah kalian. jasa mereka besar banget loh :)

Advertisements

One thought on “asisten rumah tangga.

  1. aku juga sejak kecil diajari untuk tidak menyebut mereka pembokat, batur, pembantu, babu, atau rewang. hahaha. mereka itu adalah karyawan yang bekerja dan pantas mendapat hak-hak sebagai pekerja pada umumnya :9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s