ni hao, beijing!

setelah dengan agak berat hati meninggalkan shanghai, saya dan ephay pun melanjutkan perjalanan menuju kota berikutnya, beijing. agak deg-degan sih sebenernya, karena banyak yang ngasih warning “jangan lupa bawa masker kalo ke beijing, di sana kabut/debunya parah banget!” atau “beijing ga se-modern shanghai, lo jangan kaget ya ntar di sana!” atau “kalo ga kebelet-kebelet amat, jangan masuk ke toilet umum!”

tapi yang bikin saya paling deg-degan sih sebenernya … dinginnya.

beijing terletak jauh di utara. bahkan lebih utara dari seoul atau tokyo. tanpa liat weather forecast pun saya udah tau beijing bakalan jauh lebih dingin dari shanghai. dan bener aja dong, saya dan ephay cuma bisa cengengesan pasrah begitu keluar dari kereta dan langsung disambut suhu … 4ºC. seberapa dingin tuh? yaa pokoknya kalo kelamaan outdoor tau-tau jadi susah ngomong karena bibir dan dagu mulai-mulai kaku.

but anyway, beijing turned out great :)

Continue reading ni hao, beijing!

ni hao, shanghai!

berawal dari celetukan ngasal “kita ke china aja apa?” yang iseng terlontar sekitar awal tahun 2017, berlanjut ke pembahasan dan perencanaan yang tadinya maju-mundur tapi lama-lama makin serius, hingga akhirnya pukul gong beli tiket pesawat di pertengahan tahun 2018 (terima kasih, garuda online travel fair!), saya dan ephay pun resmi menginjakkan kaki di negeri tirai bambu pada pertengahan november 2018 lalu.

mendarat di shanghai, kita langsung disambut udara dingin late autumn/early winter di suhu 15ºC. emangnya segitu udah termasuk dingin? yha mohon maap berhubung saya cupu sama udara dingin dan selalu jadi yang ngeluh paling kenceng tiap ada yang nurunin suhu AC ke 22-23º di kantor, buat saya 15º itu udah dingin banget. that’s why penting banget nyari tau ramalan cuaca dan suhu destinasi liburan kita sebelum berangkat, biar ga saltum.

tapi walaupun kedinginan, I instantly fell in love with this city

Continue reading ni hao, shanghai!

become a tourist in your own hometown.

when you’re in need of a vacation but your saving and leave balance won’t allow you to have one, what would you do?

salah satu alternatif yang saya temukan untuk menjawab pertanyaan di atas adalah: menjadi turis di kota sendiri.

saya sebenernya udah pernah denger soal jakarta walking tour beberapa tahun lalu. tapi karena keterbatasan informasi (dan niat), ujung-ujungnya pun cuma jadi wacana belaka, lol. sampai akhirnya bulan desember 2017 kemarin akhirnya kesampean juga ikutan walking tour yang di-organize oleh cafe semasa dan jakarta good guide.

jakarta good guide punya beberapa rute walking tour yang bisa dipilih. rute yang jadi objek event kolaborasi dengan cafe semasa waktu itu adalah rute kota tua. pas banget, saya emang lagi pengen banget menjelajah kota tua. langsung deh daftar (by whatsapp/email), bayar (IDR 125,000 per orang), dan tunggu hari H buat ikutan.

Continue reading become a tourist in your own hometown.

solo traveling: yay or nay?

I never traveled alone before. naik pesawat sendirian udah pernah, nonton di bioskop sendirian udah beberapa kali, makan sendirian di restoran udah sering, jalan-jalan di mall sendirian udah ga keitung berapa kali. tapi kalo traveling sendirian—bener-bener sendirian mulai dari berangkat, jalan-jalan, dan pulang—so far belom pernah.

selama ini saya selalu traveling bareng temen, seringnya sih berdua, paling banyak berempat, karena sejujurnya saya kurang suka traveling rame-rame. waktu jalan-jalan ke jepang bulan oktober lalu, saya sempet sih jalan sendirian setengah hari di tokyo. jadi paginya masih barengan hesti sampai makan siang, trus setelah itu kita misah jalan sendiri-sendiri sampai malem. it was pretty fun, I guess. saya keliling akihabara (plus mampir ke tokyo station sebentar) dan berhasil pulang ke hostel di ikebukuro tanpa masalah :)

the idea of solo traveling has been around since last year, I think, even way before the japan trip. tanpa bermaksud menyombong, I happen to be one of those people who is able to read map and navigate quite well—ya walaupun kadang suka korslet sendiri sih but I honestly don’t mind getting lost in new places anyway—jadi kaya’nya itu yang bikin saya mulai mikir “kaya’nya saya bisa survive deh kalo solo traveling.”

Continue reading solo traveling: yay or nay?

dugeun dugeun seoul: fangurrrrrling time!

waktunya melanjutkan dugeun dugeun seoul series setelah hiatus beberapa bulan :D dan kali ini adalah bagian yang paling exciting buat saya (selain belanja kosmetik di myeongdong tentunya) yaitu faaangurrrrrling time! so just a little heads up, di blog post ini akan muncul beberapa nama dan istilah yang barangkali kurang familiar bagi orang-orang yang bukan korean entertainment enthusiasts macem saya jadi saya akan menjelaskan istilah-istilah tersebut menggunakan footnote. harap maklum ya hehe.

begitu menjejakkan kaki di seoul, hampir semua advertisement di sekitar saya udah ga keliatan asing lagi. mulai dari poster-poster iklan di sepanjang dinding stasiun MRT, lagu-lagu yang diputer di berbagai tempat umum, iklan-iklan di TV, standee atau poster di etalase toko … hampir semuanya dipenuhi muka-muka dan suara yang udah familiar buat saya mulai dari aktris/aktor, komedian, MC, dan idol/penyanyi.

Continue reading dugeun dugeun seoul: fangurrrrrling time!

dugeun dugeun seoul: tourism attractions.

tujuan utama saya ke seoul kemaren secara garis besar mungkin bisa dibagi jadi tiga: jalan-jalan, fangirling, dan makan. yang akan dibahas di blog post kali ini adalah part pertama yaitu jalan-jalan ke tempat-tempat yang biasanya bakalan muncul ketika kita google “places to visit in seoul” a.k.a atraksi-atraksi pariwisata standar di seoul. standar di sini maksudnya bukan berarti tempatnya biasa-biasa aja (walaupun tbh emang ada beberapa tempat yang menurut saya biasa aja sih) tapi lebih ke kebanyakan-turis-di-seoul-tuh-pasti-ke-sini kind of places.

yang pertama gwanghwamun square dan gyeongbokgung palace.

kalo mau ke gyeongbokgung palace sebenernya bisa langsung turun di stasiun gyeongbokgung, tapi karena kita mau jalan-jalan (dan hesti mau lip sync lagu at gwanghwamun) di gwanghwamun square dulu jadilah kita turun di stasiun gwanghwamun instead. keluar dari exit 9 (atau 8, asli lupa) kita langsung berada di tengah-tengah gwanghwamun square, disambut oleh patung king sejong the great dan admiral yi sunshin. sekilas info, di bagian bawah patung king sejong ada pintu masuk ke museum bawah tanah yang nyeritain sejarah king sejong dan hangul, lumayan menarik buat diliat-liat atau sekedar numpang berteduh dari terik matahari, hehehe.

Continue reading dugeun dugeun seoul: tourism attractions.

dugeun dugeun seoul: preparation and arrival.

sebelum muncul pertanyaan dari sejuta umat yang kurang familiar ma istilah-istilah perkoreaan,

“dugeun dugeun” or “두근두근” is an onomatopoetic word that imitates the sound of a heartbeat. (source)

so based on the explanation above, you can say that “dugeun dugeun” is like the korean terms of “deg deg” (indonesia) or “doki doki” (japanese) or “thump thump” (english). trus kenapa judul blog post-nya “dugeun dugeun seoul”? jadi ceritanya baru-baru ini ada variety show korea yang judulnya dugeun dugeun india atau fluttering india. isinya tentang 5 orang kpop idols yang diutus bikin liputan ke india untuk pertama kalinya. nah berhubung ini juga pertama kalinya saya ke seoul, bolehlah minjem judulnya trus dirubah dikit hehehe.

oke penjelasan mengenai judul blog post-nya cukup sekian aja ya, mari kita memasuki pokok cerita.

Continue reading dugeun dugeun seoul: preparation and arrival.