I’ve been addicted to their songs and musics since the last few months. let me introduce you to urban zakapa, an indie acoustic jazz group from south korea. they consist of nine members — four vocalists and five instrumentalists.
I’ve been addicted to their songs and musics since the last few months. let me introduce you to urban zakapa, an indie acoustic jazz group from south korea. they consist of nine members — four vocalists and five instrumentalists.
whoa akhirnya saya nulis blog lagi! *throws confetti*
ehem baiklah, kemalasan dan ke-moody-an bukanlah dua hal yang patut dibanggakan sebetulnya, tapi saya bener-bener ga tau mau nulis apa selama beberapa bulan terakhir. ditambah lagi koneksi internet yang minim malah semakin memperparah mood nulis, so … yeah begitulah. *cough alesan cough*
aanyway setelah sekian lama absen dalam menulis review (entah buku, film, serial, makanan … err scratch the last word, saya ga pernah review soal makanan) akhirnya kali ini saya memutuskan untuk menulis review tentang serial korea yang baru saya tamatin beberapa hari lalu, berjudul 49 days.
Setelah berbulan-bulan berkutat memeras otak, membanting tulang, menguras darah, mencabik daging untuk menulis skripsi dari bab 1 sampai 5, akhirnya tiba juga waktunya menulis halaman yang paling ingin saya tulis dari hari pertama ngerjain skripsi.
Terlalu banyak yang ingin saya tulis di sini dan terlalu banyak nama yang ingin saya cantumkan. Moreover I’m in the mood of writing these kind of things jadi mohon maaf klo halaman persembahan ini bakalan panjang banget dan agak unyu.
Dan seandainya kalian tidak bisa menemukan nama kalian di sini, itu bukan karena kalian kurang penting atau saya tidak merasa berterima kasih pada kalian, tapi murni karena daya ingat saya yang semakin menurun atau karena keterbatasan tempat, terima kasih.
So … here we go.
whoa! it’s been a month since my last post. sebulan ini saya disibukkan dengan banyak hal mulai dari skripsi ampe hal-hal pribadi. ditambah lagi saya adalah orang yang sangat sangat moody dan selama sebulan terakhir bisa dibilang mood nulis sama sekali ga muncul. mood nulis skripsi aja munculnya susah banget, apalagi mood nulis blog? *malah curcol*
aanyway kali ini saya pengen menulis tentang asisten rumah tangga. yap, asisten rumah tangga atau mungkin lebih dikenal dengan sebutan pembantu rumah tangga, orang yang bekerja di rumah kita buat bantu-bantu bersihin rumah, nyuci baju, masak, dan sejenisnya.
saya sendiri lebih nyaman menyebutnya “asisten rumah tangga” atau “mbak” dalam pembicaraan sehari-hari ketimbang “pembantu” atau “pembokat.” kenapa? entahlah, mungkin ini cuma menurut anggapan saya aja, tapi menurut saya istilah “pembantu” agak sedikit terlalu kasar dan sejujurnya saya sangat menghormati profesi mereka. jadilah saya sejak kecil sebisa mungkin tidak menyebut mereka dengan sebutan “pembantu.”
tulisan ini sebenarnya sudah pernah saya post di tumblr saya, dengan judul me and follow back. tapi ga ada salahnya saya post ulang di blog ini, karena toh fenomena ini masih sering terjadi pada saya.
saya pernah nge-tweet begini beberapa bulan lalu:
please don’t ever ask me to follow you back. I follow someone because I want to, not because s/he asked me to.
sounds rude? arrogant? klo gitu lebih baik saya langsung bicara terus terang dan to the point. menurut saya, meminta seseorang untuk follow back kita adalah twitter crime nomer satu.
kenapa?